Mengapa Ikan Sapu-Sapu Harus Dimatikan dan Dikubur? Ini Penjelasan Ilmiahnya!

4 Min Read
Disclosure: This website may contain affiliate links, which means I may earn a commission if you click on the link and make a purchase. I only recommend products or services that I personally use and believe will add value to my readers. Your support is appreciated!

Ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) kini menjadi sorotan karena populasinya yang meledak dan menginvasi perairan Jakarta, seperti Sungai Ciliwung. Spesies invasif ini sangat tangguh, mendesak populasi ikan lokal, dan bahkan bisa merusak turap sungai. Untuk menekan populasinya, upaya penangkapan massal terus digencarkan.

Metode penanganan yang direkomendasikan setelah ditangkap adalah mematikannya terlebih dahulu secara cepat, lalu menguburnya. Mengapa tidak dibuang begitu saja ke daratan? Berdasarkan temuan ahli dan riset terbaru, berikut adalah alasannya:

1. Mampu Bertahan Hidup Sangat Lama di Luar Air

Tidak seperti ikan pada umumnya yang akan langsung mati saat terdampar, ikan sapu-sapu adalah “penyintas” yang ekstrem. Secara biologis, mereka memiliki adaptasi organ yang memungkinkan mereka menyimpan oksigen di perutnya serta bernapas dari udara. Berbagai pengamatan menunjukkan mereka bisa bertahan di luar air dari hitungan jam hingga 30 jam pada kondisi lembap. Jika hanya dibuang ke tempat sampah atau pinggir sungai, besar kemungkinan mereka tetap hidup dan hanyut kembali ke sungai saat hujan turun.

2. Toleransi Hipoksia yang Ekstrem

Meskipun terlihat diam dan kaku layaknya ikan mati saat diangkat ke darat, sel-sel organ tubuh ikan sapu-sapu belum sepenuhnya berhenti bekerja. Mereka memiliki toleransi hipoksia (kondisi minim oksigen) yang sangat tinggi. Mengubur bangkainya—setelah dipastikan mati—bertujuan untuk menutup akses oksigen secara mutlak, sehingga mempercepat proses dekomposisi secara alami di dalam tanah.

- Advertisement -
Ad image

3. Mencegah Tersebarnya Logam Berat Berbahaya

Ini adalah alasan ekologis yang paling krusial. Mengutip temuan para pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan peneliti Universitas Al Azhar Indonesia, ikan sapu-sapu yang mendominasi perairan tercemar seperti Ciliwung terbukti telah mengalami bioakumulasi. Tubuh mereka menyimpan hingga 10 jenis logam berat mematikan, termasuk timbal (Pb), kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan arsenik (As).

Jika bangkai ikan ini dibiarkan membusuk di tempat terbuka, racun logam berat tersebut bisa merembes dan mencemari lingkungan sekitar, atau meracuni satwa liar (seperti kucing atau burung) yang memakannya. Dengan dikubur di tanah yang aman, unsur kimia tersebut akan terurai menjadi trace element tanpa masuk kembali ke dalam rantai makanan.

4. Etika Kesejahteraan Hewan: Jangan Dikubur

Satu catatan penting yang belakangan ini disorot oleh para ahli dan tokoh agama (seperti MUI dan NU) adalah metode eksekusinya. Ikan sapu-sapu tidak boleh dikubur dalam keadaan hidup. Hal tersebut dianggap sebagai penyiksaan dan melanggar prinsip ihsan (berbuat baik terhadap makhluk hidup). Cara yang benar adalah mematikan sistem saraf atau fungsi otaknya secara cepat dan efisien (misalnya dengan menusuk kepala atau mematahkan tubuhnya) untuk meminimalkan penderitaan, barulah kemudian dimasukkan ke dalam lubang kubur.


Apakah Ada Alternatif Lain Selain Dikubur?

Menjawab pertanyaan di akhir artikel, memusnahkan dengan cara dikubur adalah langkah mitigasi yang paling efektif saat ini. Namun, para pakar dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menilai ikan ini sebenarnya memiliki potensi ekonomi jika ditangani oleh ahlinya. Beberapa alternatif pengelolaannya meliputi:

  • Pupuk Organik: Bangkai ikan sapu-sapu dapat difermentasi menjadi pupuk organik cair atau padat yang sangat baik untuk tanaman hias atau tanaman non-pangan.
  • Pakan Ternak/Tepung Ikan: Bisa diolah menjadi pakan unggas, namun hal ini membutuhkan teknologi pengolahan dan filtrasi khusus untuk memastikan kandungan logam beratnya benar-benar hilang sebelum diberikan kepada hewan ternak.
Share This Article
Leave a Comment
en_USEnglish