Kim Yo-jong menyatakan bahwa Korea Utara tidak dapat dinegosiasikan, hanya sehari sebelum Presiden Tiongkok Xi Jinping tiba di Pyongyang untuk menghadiri pertemuan puncak yang sangat penting.
Mengubah Strategi Diplomasi
Korea Utara baru saja melontarkan peringatan keras kepada Washington dan Beijing, dengan menyatakan bahwa kemampuan nuklirnya sama sekali tidak dapat dinegosiasikan. Kim Yo-jong, saudari pemimpin Kim Jong-un yang berpengaruh, dengan tegas menegaskan kembali status nuklir Korea Utara sebagai “garis merah yang mutlak dan tak dapat diubah” yang tidak dapat diubah oleh kekuatan eksternal. Waktu penyampaian pesan ini bukanlah kebetulan. Pesan tersebut dirilis tepat satu hari sebelum Presiden Tiongkok Xi Jinping tiba di Pyongyang untuk menghadiri pertemuan puncak semalam yang sangat dinantikan. Dengan menarik garis batas ini, Korea Utara ingin memastikan bahwa pembicaraan apa pun mengenai penyerahan senjatanya sama sekali tidak akan dibahas selama pertemuan bilateral yang akan datang.
Menolak Kesepakatan AS-Tiongkok
Serangan verbal mendadak tersebut secara langsung menargetkan pernyataan terbaru dari Washington. Departemen Luar Negeri AS baru-baru ini menyatakan bahwa pimpinan Amerika dan Tiongkok memiliki tujuan yang sama terkait denuklirisasi Semenanjung Korea. Kim Yo-jong mengecam pernyataan tersebut sebagai “rekayasa belaka” dan kebohongan yang tidak masuk akal. Ia menegaskan bahwa Pyongyang tidak akan membicarakan kedaulatan intinya dengan pihak mana pun. Namun, pernyataan tersebut juga didukung oleh peningkatan kapasitas peralatan militer yang signifikan. Kim Jong-un baru-baru ini meninjau fasilitas pengayaan uranium berskala besar dan memerintahkan pabrik-pabrik untuk meningkatkan produksi rudal hingga 2,5 kali lipat dari tingkat saat ini dalam lima tahun ke depan. Upaya pertahanan yang gencar ini menyoroti mengapa mengubah status nuklir Korea Utara tetap menjadi impian belaka bagi para diplomat Barat.
Upaya Beijing Menjaga Keseimbangan yang Rumit
Tiongkok berada dalam posisi yang rumit saat Xi Jinping menginjakkan kaki di tanah Korea Utara. Secara historis, Beijing telah menghindari penggunaan istilah spesifik “denuklirisasi” dalam pernyataan bilateral terbaru, sebuah langkah yang dipandang Pyongyang sebagai bentuk penerimaan diam-diam. Korea Utara khawatir Tiongkok mungkin akan menyerah di bawah tekanan diplomatik Amerika Serikat menyusul pertemuan puncak antara kedua negara adidaya tersebut. Oleh karena itu, langkah preventif Kim Yo-jong memaksa Beijing untuk memilih kata-katanya dengan hati-hati. Kim Jong-un bahkan membawa putrinya, Ju-ae, untuk menyaksikan uji coba kapal perusak angkatan laut baru, memamerkan kekuatan militer mereka kepada dunia. Pada akhirnya, Pyongyang memberi sinyal bahwa persenjataan nuklirnya akan tetap ada, memperkuat status nuklir Korea Utara sebagai perisai utama bagi kelangsungan hidup rezim tersebut.